Friday, 8 February 2013

Perjalanan Awal menikah

Semalam ngobrol sama ayah, tentang awal kami menikah. Jadi senyum-senyum dengan perjalanan awal menikah kami. he he he he he Bagaimana kehidupan setelah menikah? Menyenangkan, menakjubkan, membuat saya bersyukur.  Bahkan sering banget kami berdua ‘mempertanyakan’, bener tidak kami  sudah nikah, saking masih amazed-nya sama kehidupan baru ini.

Dari sebelum nikah, kami sepakat untuk tinggal berdua langsung sendiri. Mengontrak rumah mungil berwarna hijau, dengan halaman persawahan. Rumah yang masih bagus, dengan dua kamar tidur , satu kamar mandi, satu dapur, dan ruang tamu-tengah yang lega. Rumahnya juga memberikan perlindungan privasi dan keamanan yang insya Allah baik, karena letaknya di jalan buntu. Daerah Kaliabang tengah Bekasi, Kenapa milih di sini? karena dekat rumah tante dan rumah kakak dari suami, jadi ngumpul. 

Manfaat Tinggal Sendiri Setelah Menikah?
Kami  sudah pernah baca beberapa buku “pelajaran” berkeluarga sebelum kami menikah pada tanggal 27 September 2009, bahwa lebih baik setelah menikah itu tinggal sendiri, langsung terpisah dari orang tua. Itu juga yang jadi dasar kami memilih tinggal sendiri. Setelah menikah dan mengalami tinggal terpisah dengan orang. Terasa manfaatnya:
#1 Kita jadi lebih mandiri, karena survival-nya hidup kita ada di tangan kita.
Secara praktis, semua hal A sampai Z dalam hidup kami harus diurus berdua, tanpa mengandalkan orang lain. Dengan melepaskan ketergantungan dengan orang lain (orang tua, dalam kasus ini), kami juga bisa cepat belajar jadi orang tua yang kuat, untuk anak-anak kami nanti.

#2 Mengerti susahnya perjuangan orang tua kita dulu, jadi kita bisa lebih bersyukur dan lebih sayang orang tua.
Cara berempati yang paling akurat dengan orang lain ya dengan berada di posisi orang lain itu. Dan ternyata rasanya seperti ini ya, menjadi orang tua(meski baru 2 tahun 4 bulan)  Dengan ini, kami jadi bisa lebih bersyukur dan lebih ingat untuk mendo’akan orang tua .
#3 Kita berdua jadi ‘terpaksa jago’ ngerjain berbagai kerjaan rumah.
Kalau urusan beres-beres rumah saya sudah biasa(kalau ga rajin yang ada di pukul sapu sama Mak Sri). Jadi saat tinggal sendiri tidak mengalami kesulitan menjadi ibu rumah tangga, memasak, nyuci, bersih-bersih. bedanya sekarang ada yang membantu. Ayah bukan tipe orang yang ngerjain pertukangan tapi setelah menikah saya lihat jadi tukang listrik, tukang ledeng, tukang kayu dan tukang batu., he he he he he komplit deh. (love u ayah)
#4 Bikin pasangan suami istri makin cuintaaa.
           Tiap hari berdua, nonton film berdua, masak berdua, nyuci baju berdua, he he bersih- bersih ,
           ngobrol berdua, eeeeemmmmmm asik kan. bagaimana ga nambah cinta?

#5 Makin mengerti arti PROSES dan KERJA KERAS, bukan cuma menikmati hasil.
Orang tua kita kami sekarang punya rumah, kendaraan, perabotan rumah tangga yang banyak. Emangnya itu semua instan dapetnya? itu pasti kerja keras mereka selama berumah tangga. nah saatnnya kami mencontoh. Kalau masih tinggal sama orang tua, kami pasti masih pake semua fasilitas tersebut (setidaknya sebagian besarnya). Kalo udah tinggal sendiri, kulkas ga punya, mesin cuci ga punya, TV ga punya, motor pun belum mulai nyicil, rumah apalagi. Kami jadi termotivasi untuk bekerja keras, bersabar, menghargai proses, dan menunda menikmati kesuksesan untuk kesuksesan lain yang lebih besar nanti.
Sebelum menikah pernah dikasih nasehat oleh Mak Sri dan Pak Joko bahwa pisang itu bakal tumbuh subur kalo dipisahin dari induknya. Tahu pohon pisang kan, yang berkembang biak dengan tumbuh tunas pohon barunya di samping pohon induknya. Ternyata, tunas baru pisang itu akan tumbuh dengan cepat, lebat, dan berbuah subur kalau tunasnya dipotong, dipindahin dari samping induknya. Jadi semangat untuk menjalani rumah tangga secara mandiri. Mau coba?? 

Reactions:
Categories:

0 comments:

Post a Comment