Wednesday, 12 August 2015

Breastfeeding & Work

Putra Kedua saya, aaron abbasy sudah berusia 4 bulan, Alhamdulillah bisa langsung menyusui sesaat setelah saya melahirkaan. ASI sangat melimpah sampai bisa stock(mulai deh simpen buat nanti kembali kerja, pikir saya demikian). Walaupun saya pernah menyusui beberapa tahun lalu saat kelahiran anak pertama, Saya seperti pertama kali menyusui kembali, banyak moment ajaib yang membuat saya bersyukur dapat merasakan menjadi seorang ibu. 

Dulu sebelum menikah, saat melihat saudara saya menyusui, saya pikir menyusui adalah moment biasa saja yang berjalan dengan ilmiah dan sendirinya, ternyata saya salah, menyusui butuh pengetahuan yang sangat banyak dan perjuangan yang sangat berat. Dukungan orang-orang disekitar saya dan lingkungan sangat berpengaruh. Suami dan keluarga inti menjadi supporter utama yang mendorong saya untuk menyusui. Bagi saya sendiri yang menjadi ibu bekerja, lingkungan kantor dan rekan kerja menjadi pendorong sukses tidaknya proses menyusui bagi ibu bekerja. 


Saat menyusui anak pertama, tantangan saya sangat berat. Ketidaktersediaan Ruang Laktasi menjadikan saya harus perputar otak mencari tempat yang pas untuk memerah ASI, masih teringat betul dibenak saya, saya dan beberapa rekan saya mencari ruangan berpindah-pindah, gudang, kantor koperasi kantor, diantara rak buku di perpustakaan, masjid, atau yang paling parah pernah di toilet. Bukan hanya terkendala ruangan, tidak adanya dukungan dari rekan kerja dan lingkungan di kantor menjadi penentu faktor stress yang menyebabkan berkuranganya produksi ASI. 


Kelahiran anak kedua saya membuat saya makin semangat memerah ASI, Ruangan Laktasi yang dulu saya dan rekan-rekan impikan sudah ada di sediakan kantor. Kondisi lingkungan juga mendukung, hanya beberapa masih ada yang meledek setiap kali saya pakai tas ASI, cukup senyum saja :). 

Saya sudah meninggalkan si kecil untuk kembali bekerja sekitar 1.5 bulan. Memerah ASI di kantor bisa jadi akan sangat membosankan, hehehehe bukan karena tidak mau memerah kembali. Baru 15 menit memerah sudah menguap, berhenti sejenak dan memulai kembali. Kadang saya medengarkan musik, chatting, browsing, ngemil, atau berhenti sejenak melakukan peregangan otot agar kembali segar. Memerah ASI dengan kondisi mood yang tidak baik, menjadikan hasil perahan hanya sedikit. Memerah ASi harus dilakukan dengan mood yang baik, senang dan positif karena hasilnya akan melimpah. 






Reactions:
Categories: , , ,

0 comments:

Post a Comment