Tuesday, 20 November 2012

Mendung Jakarta

Lelah terus menyeret kaki untuk menepi
haus membaurkan pandangan mata, 
bising riuh  alir pikiran
sakit mendung hati 

hujan menitikkan air berjuta kali
rintik pun berujung basah
membuka mata tak kuasa
menarik senyum bibir dalam menggigil

lirih petir merasuk di gendang telinga
berbisik bersuara
kulit dingin berkerut kisut diterpa angin malam 
jari-jari beradu menguatkan raga 

malam gelap berangsur sepi hanya riuh diri dalam hati
awan hitam menutup malam mengakhiri hari tanpa pamer bintang

 

Reactions:
Categories:

0 comments:

Post a Comment